Jumat, 05 Februari 2010
Jumat, 08 Januari 2010
hilang kendali,biker tewas di permata hijau
JAKARTA - Seorang pria tewas setelah sepeda motor yang ditumpanginya hilang kendali di daerah Permata Hijau, Jakarta Selatan, pagi ini.
Informasi yang dilansir Traffic Management Centre (TMC) Polda Metro Jaya, Sabtu (9/1/2010) menyebutkan, insiden terjadi sekira pukul 09.45 WIB di Jalan Panjang depan ITC Permata Hijau.
Petugas TMC, Briptu Widia menyatakan korban merupakan penumpang sepeda motor Mio dengan nomor polisi B 6967 BUM.
Korban meninggal yang diketahui bernama Samin itu tewas di lokasi. Sementara pengemudi sepeda motor mengalami luka parah dan dilarikan ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau.
Kasus ini ditangani unit Laka Polres Jakarta Selatan.
ancam ngebom,3penumpang pesawat ditangkap
LONDON - Kepolisian Inggris menangkap tiga orang yang dicurigai akan meledakan bom di pesawat Emirates Airlines di Bandara Heathrow, London.
Ketiga orang tersebut sebelumnya berteriak kepada penumpang akan meledakkan bom Emirates Airlines. Saat itu pesawat hendak landas menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Namun setelah polisi menyisir bagian dalam pesawat dengan nomor penerbangan EK004 itu, tidak ditemukan adanya bahan peledak.
"Pelaku berteriak memiliki bom, namun kru pesawat dengan sigap melaporkan ancaman tersebut kepada polisi dan kemudian menangkap mereka," ucap seorang penumpang saat diwawancarai Sky News, Sabtu (9/1/2010).
Pelaku yang masing-masing berusia 58, 48, dan 36 tahun tersebut akhirnya ditahan kepolisian bandara Heathrow. Polisi pun mengindikasikan aksi ketiga pelaku itu hanya sebuah lelucon.
Sementara lalu lintas penerbangan di bandara Heathrow tidak mengalami gangguan.
Bandara di seluruh dunia meningkatkan keamanan mereka sejak gagalnya percobaan pengeboman maskapai pesawat milik mskapai penerbangan Amerika Serikat, Northwest Airlines. Saat itu pria warga Nigeria, Umar Farouk Abdulmutallab berupaya meledakkan pesawat yang ditumpangi sekira 290 penumpang dan kru pada Hari Natal tahun lalu.
Inggris sendiri meningkatkan kemanan di sebagian bandara dengan mengoperasikan alat pemindai tubuh. (faj)(rhs)
kepala korban mutilasi masih dicari
JAKARTA - Kapolsek Cakung Kompol Yudi Sulitiyo Wahid mengatakan, proses pencarian kepala korban mulitasi masih terus berlanjut.
Namun hari ini tim belum melakukan penyisiran lanjutan ke saluran Banjir Kanal Timur (BKT), karena masih mengumpulkan keterangan-keterangan dari warga dan informasi lainnya.
"Kita masih mengumpulkan bahan keterangan terkait korban tersebut. "Pencarian kepala korban masih berlanjut dan sudah menemui titik terang," kata Kompol Yudi di kantornya, Sabtu (9/1/2010).
Saat ditanyak maksud sudah menemui titik terang itu seperti apa, Yudi tidak menjelaskan lebih rinci. Dia beralasan semua informasi berada di Polda.
"Kita akan terus berupaya melakukan pencarian ini, dan terus berkoodnasi dengan Polda. Sebagai informasi hari ini kami tidak bisa lagi memberikan keterangan lebih rinci, karena langsung satu pintu dari Kadiv Humas Polda Metro Jaya. Jadi kami mohon doanya saja," terang dia.
Sebelumnya, Kasat Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Nico Afinta mengatakan, korban mutilasi adalah anak-anak berusia 8-12 tahun. Memiliki ciri-ciri fisik, kulit sawo matang dengan tinggi badan sampai 145 cm.
Korban juga memiliki ciri khusus seperti pusar bodong, ada luka lama di punggung, lengan kanan bekas luka sepanjang 12 cm. Korban juga memiliki tahi lalat di kaki kanan dan kelamin disunat. Korban ditemukan dengan tubuh terpotong-terpotong.
Seperti diberitakan, empat bagian tubuh bocah tanpa kepala ditemukan dalam sebuah kardus di pinggiran Banjir Kanal Timur (BKT), Jalan Raya Bekasi Km 27, Jakarta Timur, Jumat (8/1/2010) pagi sekira pukul 06.30 WIB. Bocah malang tersebut diduga korban Sodomi.
Potongan mayat ini pertama kali ditemukan oleh Abdi (30), warga setempat. Abdi curiga dengan onggokan kardus yang dikerumuni lalat. Setelah dibuka, ternyata dalam kardus tersebut terdapat beberapa bagian tubuh manusia tanpa kepala, yang terbungkus koran yang dilapisi plastik warna hitam.
Terdapat empat potongan tubuh yang terdiri dari dua kaki sampai dengkul, bagian dengkul sampai pinggang, dan dari bagian pinggang hingga leher tanpa bagian kepala.
(ram)
waspadai serangan tidur mendadak
HATI-HATI jika Anda terserang narkolepsi atau serangan tidur. Penyakit narkolepsi bisa menyerang di mana saja. Selain itu, narkolepsi juga bisa menyerang kapan saja bisa pagi, siang, atau malam.
Jika tidak diobati, penyakit tersebut bisa menurunkan kualitas hidup seseorang. Trisnawatin Hidayah, 26, karyawati sebuah perusahaan swasta, mengeluhkan bahwa dirinya hampir sepanjang waktu merasa mengantuk. Bahkan, dirinya terkadang tidak bisa menahan kantuk dan akhirnya tidur di tempat yang bukan semestinya.
”Susah sekali menahan rasa kantuk saat gejala ini menyerang, sampai-sampai saya sering tertidur di mana saja. Tetapi jika saya tidur sekitar 15 menit saja, kantuk itu sudah hilang,” papar wanita yang mengaku terserang penyakit narkolepsi sejak dua tahun lalu.
Narkolepsi adalah serangan tidur, di mana penderitanya amat sulit mempertahankan keadaan sadar. Diketahui juga bahwa satu dari 2.000 orang menderita narkolepsi. Ahli kejiwaan dari Psychosomatic Clinic Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Serpong dr Andri SpKJ, mengatakan bahwa narkolepsi merupakan suatu kondisi gangguan kesehatan jiwa, yang ditandai dengan tidur tiba-tiba akibat serangan rasa kantuk.
”Serangan kantuk yang ditandai dengan tidur tiba-tiba ini umumnya berlangsung sekitar 10–20 menit, dan biasanya terjadi jam makan, saat berjalan, bicara, atau melakukan aktivitas seks,” jelas dokter, yang juga berpraktik di RS Puri Indah Jakarta ini.
Andri menjelaskan, narkolepsi ini bisa terjadi kapan saja, bahkan saat bekerja atau berkendara, dan bahkan datangnya narkolepsi tidak ada tanda-tandanya seperti menguap.
”Kondisi ini sangat membahayakan karena dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas saat mengendarai kendaraan dan kecelakaan industri saat bekerja,” ujar psikiater yang juga tergabung dalam Departemen Kesehatan Jiwa, Universitas Kristen Krida Wacana.
Andri menuturkan, diagnosis narkolepsi dapat dilakukan bila kondisi mengantuk tiba-tiba tersebut telah berlangsung setiap hari selama lebih dari tiga bulan. Narkolepsi sering juga diikuti oleh katapleksi, yaitu suatu keadaan tiba-tiba terjadi kelemahan tonus otot yang sifatnya berada di kedua bagian tubuh individu dan merupakan gejala khas narkolepsi yang ditandai dengan melemasnya otot secara mendadak.
Adapun gejala katapleksi lainnya adalah lutut yang tiba-tiba lemas atau kepala pusing; atau gejala halusinasi hipnogogik, yaitu suatu halusinasi secara penglihatan maupun pendengaran saat akan tidur. Sementara itu, halusinasi hipnopompik yaitu suatu halusinasi, baik secara penglihatan maupun pendengaran, saat akan bangun tidur.
Andri menambahkan, narkolepsi memiliki gejala yang bisa dikenali, seperti serangan mengantuk yang tiba-tiba yang tidak dapat dilawan individu, sehingga terjadi kondisi tidur yang tiba-tiba.
”Gejala yang sering disebutkan pasien adalah kesulitan untuk menahan kantuk yang tiba-tiba datang,” katanya. ”Narkolepsi pada beberapa kasus dilaporkan juga bersifat familier, sehingga dalam satu keluarga sedarah ada beberapa orang yang dapat mengalami keadaan ini,” ungkap dokter lulusan Universitas Indonesia ini seraya mengatakan bahwa penyebab penyakit ini sampai sekarang pun belum diketahui.
Andri menuturkan, segala jenis usia dapat mengalami kondisi ini. Namun, kebanyakan orang berusia di bawah usia 30 tahun, meski bisa menyerang juga remaja. Dalam hal pengobatan, Andri mengatakan pengobatan lebih kepada gejala yang timbul.
’’Saat ini memang belum ada pengobatan yang bisa langsung menghilangkan penyakit tersebut,’’ paparnya.
Saat ini, pengobatan yang bisa dilakukan para penderita narkolepsi adalah dengan tidur siang secara teratur dengan jadwal tetap, penggunaan obat stimulan dapat diberikan dengan pengawasan dokter.
Adapun, jelas Andri, untuk katapleksi yang sering terjadi pada penderita narkolepsi dapat dikurangi dengan pemberian antidepresan golongan trisiklik atau SSRI (Serotoni Selective Reuptake Inhibitor).
(Koran SI/Koran SI/ftr)

